Bagaimana sebuah negara bisa menjaga ketahanan energi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan tetap berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan secara bersamaan? Pertanyaan inilah yang menjadi inti pembahasan dalam kuliah umum Program Studi Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina bertajuk “Energy Planning and Policy in a Changing World: Connecting Energy Headlines with Economic Fundamentals” yang digelar pada Kamis, 11 Juni 2026.

Kuliah umum ini dibawakan oleh pakar energi Widhyawan Prawiraatmadja, Ph.D., yang memaparkan bahwa tantangan utama kebijakan energi bukanlah memilih di antara tiga prioritas — pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, atau keberlanjutan — melainkan bagaimana menyeimbangkan ketiganya melalui perencanaan berbasis data dan berorientasi jangka panjang.

Menurut Widhyawan, kebijakan energi saat ini tidak dapat lagi disusun hanya berdasarkan kebutuhan pasokan. Perubahan geopolitik, volatilitas harga komoditas, tuntutan dekarbonisasi, hingga perkembangan teknologi energi bersih menjadi faktor-faktor yang wajib diperhitungkan dalam setiap perumusan strategi energi nasional.

Ia menjelaskan bahwa penyusunan kebijakan yang efektif perlu mempertimbangkan keterkaitan antara kondisi ekonomi, dinamika geopolitik, perkembangan teknologi, serta komitmen pengurangan emisi. Pendekatan yang mempertimbangkan seluruh faktor ini dinilai mampu menghasilkan kebijakan yang tidak hanya menjamin ketersediaan energi, tetapi juga meningkatkan daya saing ekonomi dan mendukung pembangunan berkelanjutan secara bersamaan.

Mahasiswa yang mengikuti kuliah umum ini diajak memahami keterkaitan antara isu-isu energi global yang berkembang di ruang publik dengan fundamental ekonomi yang mendasarinya. Pendekatan ini mendorong mahasiswa melihat tantangan energi secara lebih komprehensif, sekaligus memperkuat kemampuan analitis mereka dalam merancang solusi berbasis data yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.

Forum akademik seperti ini menjadi wujud nyata dari semangat UPER Berdampak, yang terus menghadirkan pembelajaran responsif terhadap isu-isu strategis bangsa melalui kolaborasi dengan praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan.

Penguatan kompetensi mahasiswa di bidang kebijakan energi ini turut mendukung implementasi Asta Cita ke-2 tentang kemandirian bangsa melalui penguatan ketahanan energi, sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDG 4 (Quality Education) dan SDG 13 (Climate Action).

Siap mengasah kemampuan merumuskan kebijakan energi yang berdampak nyata bagi bangsa? Yuk, daftarkan dirimu melalui Pendaftaran Universitas Pertamina dan bergabunglah dengan Program Magister Sains Keberlanjutan.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *